sweetyvinz

just wanna write what I feel.

KARMA?! BUKAN, INI HIDUP

“Aku mau kita putus. Maaf tapi aku lelah dengan sikapmu”

Selesai mengirimkan sms itu pada Dhika, Nia mematikan hapenya. Dia tidak ingin Dhika menghubunginya sekarang. Dia belum mau bicara pada Dhika, setidaknya saat ini.

*

Nia terlihat begitu gembira. Saat ini dia sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Rasa gundahnya malam kemarin kini tak tampak sama sekali. Canda dan tawa sesekali terlontar dari bibirnya, menghangatkan suasana malam itu.

Riza. Pria inilah yang sekarang menemani malamnya. Seorang pria mapan yang secara fisik dan keuangan jauh melebihi Dhika. Nia mengenal Riza dari bibinya. Mereka bertemu ketika Nia berkunjung ke sana. Berawal dari ngobrol biasa, curhat kemudian timbulah rasa nyaman di dalam dirinya ketika ia bersama Riza. Hal yang tidak di rasakannya lagi saat bersama Dhika, kekasihnya.

“Bye” Nia mengakhiri obrolannya dengan Riza. Hapenya berbunyi kembali sesaat kemudian. Dhika. Itu yang tertera di hapenya. Nia langsung menekan tombol reject. Sebuah sms masuk, “ya udah kalo itu mau kamu, demi kebahagiaan kamu aku rela ko” sms dari Dhika. “Maaf Ka, tapi sikap posesif dan over protective kamulah yang membuat aku berpaling pada pria lain”. Nia mencabut SIM cardnya, dia akan mengganti nomernya besok.

*

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan berlalu dengan indah. Nia dan Riza semakin mesra saja. Hubungan tanpa status mereka berjalan mulus semulus mobil yang melaju di jalan bebas hambatan. Hubungan tanpa status? Ya, Riza tak pernah memperjelas hubungan diantara mereka. Dia hanya bilang kalau nanti waktunya sudah pas, maka dia akan datang melamar Nia.

Nia tak suka dandan. Nia bahkan tak mengerti bagaimana caranya berdandan. Dia hanya biasa menggunakan bedak tipis di wajahnya. Tapi semenjak Riza memintanya untuk berdandan, Nia rela menghabiskan semua uang tabungannya untuk membeli alat make-up. Bahkan ketika Riza memintanya untuk menunggu selama berjam-jam saat mereka janjian, ia mau saja.

Bulan ke empat, Riza mulai berubah. Nia seringkali kehilangan contact dan kabar darinya. Setiap kali Nia bertanya, Riza hanya menjawab kalau dia sedang sibuk. Bulan ke lima, Riza menghilang. Nia sama sekali tidak bisa menghubunginya. Rasa aneh, resah dan khawatir bergelayut di hatinya. Nia benar-benar tidak habis pikir, ada apa dengan pria itu.

“Nia, maaf. Aku harus pergi. Aku sayang sama kamu. Tapi, maaf aku gak mungkin sama kamu. Aku gak mau kita bersama sementara hatimu terbagi. Aku pulang ke Banten. Aku harap kamu gak cari dan hubungi aku lagi”

“Apa? Apa maksudmu dengan hatiku terbagi?” geram Nia dalam hati. “jelas-jelas aku melepaskan Dhika demi kamu. Aku bahkan sudah tak pernah lagi menghubungi Dhika” Nia bicara sendiri. Dia berusaha menelepon Riza, tapi nomernya non-aktif. Berkali-kali Nia mengirim sms,  gagal.

Hampir seminggu ini Nia berusaha terus untuk menghubungi Riza. Tapi usahanya tidak ada yang berhasil. Paman dan bibinya pun tak tau dimana Riza. Akhirnya dia menyerah. Hatinya perih, sakit yang benar-benar sakit. Jika ingin berpisah, kenapa Riza tak megatakannya secara langsung saja. Kenapa dia harus menuduh Nia berbagi hati.

Malam kelam, sekelam hati Nia. Sendiri di kamar, Nia menikmati kesedihannya. Semua barang yang diberikan Riza kini ada ditangannya. Nia menimang barang-barang itu, memikirkan kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Riza pergi meninggalkannya. Kemudian ia sadar kalau ini bukanlah kesalahannya. Riza memang ingin pergi darinya, bukan karena ia melakukan kesalahan tapi karena dia sudah bosan.

Nia membuka laci, hendak memasukan semua barang pemberian Riza ke dalamnya. Disana ia menemukan barang-barang kenangannya bersama Dhika. “Apa ini karma?” tanyanya. “Bukan, ini bukan karma, Ini adalah hidup”. “aku menanam rasa sakit di hati Dhika, karena itu sekarang aku menuai rasa sakit itu. Riza bukanlah alasan utama kenapa Nia meninggalkan Dhika. Dia hanya memperkuat alasan-alasan sebelumnya.

Nia mengambil semua barang-barang itu. Dia memasukannya kedalam tempat sampah kemudian membawanya ke halaman belakang. Satu persatu benda itu dimakan api, berubah menjadi butiran debu yang akan hilang tertiup angin. Rasa sakit di hati Nia ikut terbakar. Luluh, melepuh dan mengapung bersama asap menuju ke langit malam. Sesungging senyum mengembang di bibirnya. Kini ia bisa melanjutkan hidup untuk esok harinya.

 

 

Jika seseorang menyakitimu, maka janganlah kamu memenuhi hatimu dengan keinginan untuk membalasnya karena hidup itu adil

~Vinz Stacey~

 

 

 

 

Iklan

70 Komentar

  1. keren Vinz…

    bersambung ga ni ??

    • makasih 🙂

      engga, tp nanti d pikirin lg deh syp tau malah jd bersambung hehe

      • jangan lama lama berpikirnya ya Vinz ?

        di tunggu episode selanjutnya….

      • hehe, tamat az deh kalo gt :mrgreen:

      • waduh,,,
        kenapa ??

      • can’t work under pressure hahahahaha

      • owh…. gitu ya…

        tekananya di angkat….

      • hehehe makasih ka… 🙂

      • di tunggu kelanjutanya hehe….

      • ok deh 🙂

      • oke…. tarik nenk…

      • tarik kaaaaangggg 😀

      • soal tarik menarik,, napa kompak Vinz hehe?

      • kan kita sehati, hahahahaha

      • pengguna honda ya Vinz hehe…?

      • ko tau sih ❓

        jangan jawab pake rayuan OVJ :mrgreen:

      • hahaha…. untung di peringatkan…

        hanya nebak aja Vinz…

        .

      • hehehehehehe.

      • pasti pendukung pedrosa ya Vinz ??

      • yupz, bener bgt 😀

      • si akangmah,, lorenzo hehe

      • ayo mari dukung pembalap kesayangan’y masing” 😀

      • siap….

        hidup rossy….

      • hahaha, udah mulai berpaling nih 😀

      • hehehe…..musin depan kan Rossy mo balik lagi ke yamaha Vinz

      • iia, ternyata performa motor ngaruh juga ya 😀

      • sangat Vinz…

      • kita liat musim dpn, gmn rossy sama yamaha’y 😀

      • yo kita sama sama liat,,,,
        gimana Vinz dg hondanya hehe

      • yg penting pedrosa’y :mrgreen:

      • iya setujuh….. hidup vale…..

      • hiduuuup, hehehehehe

      • merdeka…

      • Indonesia, 😀

      • apa kabar indonesia ?

      • secara fisik terlihat baik, namun jiwa’y sedang galau saya kira :mrgreen:

      • sebagian ya Vinz,,,, yg fisiknya galau dan jiwanya juga terkoyak sedang terjadi di beberapa titik di ibukota dan tempat lainya…

      • menghawatirkan 😦

      • hehe…

  2. Wah, sampe dibakar gitu, ya. Tapi begitulah laki-laki. Kalau bosan, suka cari-cari alasan untuk mengakhiri. Eh, tapi kan saya laki-laki? Berarti gak semua laki-laki kayak gitu deh, hehe 😀

    • tidak semua laki lakiiiiiiiiii *sambil gaya :mrgreen:

      itu sih laki-laki’y yg gak bertanggung jawab az ya el, tapi masih banyak yg enggak ko 😀

      • Ini contohnya *ngacung*

      • percaya-percaya *sambil geleng kepala eh

  3. Ely Meyer

    cerita nyatakah ?

    • iya kak ikut nanya, cerita dari pengalaman sendiri kah ?
      pesan dari ceritanya bagus kak :mrgreen:

      • bukan dr cerita sendiri tp terinspirasi dr curhatan orang :mrgreen:

      • memang belajar dari kesalahan orang lain itu better yah kak daripada belajar dari kesalahan sendiri :mrgreen:

      • kadang kita gak sadar klo kita salah *egois :mrgreen:

    • dengan tambahan bumbu, biar sedep :mrgreen:

  4. jangan bakar-bakaran, kakaaaaaaa………..polusi! 😛

    • kalo sampah emang harus di bakar Yisha, klo enggak bisa jd sarang nyamuk 😛

    • jiaaaaaaaaaaaah..
      yisha suka kumpulin barang2 yaaa??? uppst

    • Arie Pudjiarso

      Yisha, miss you! 😀

  5. Endingnya bagus Az…..

    jempolku teracung tinggi buat Az..

    • hehehe makasih kaaaaa 🙂
      *tp jangan tinggi” ya ngangkatnya 😀

      • eh apa maksudnya???

      • engga papa ko, takut nyangkut az jempol’y :mrgreen:

      • nyangkut dimna????

      • d pohon :mrgreen:
        * mulai ngaco nih, hadeuh….

      • bukan mulai, tapi udah dari kemaren.

      • hehehe *baru nyadar saya :mrgreen:

      • lah, sini yang ngasih tau, situ yang ngece

      • 😀

      • ckckckckckckck

  6. widih, keren keren, paragraf pertama aja udah dapet kesan kerennya

    • hehe, makasih fiaz 🙂
      brarti silakan lanjut k paragraf berikutnya donk :mrgreen:

  7. Arie Pudjiarso

    Topik yang bagus untuk lebih diulas lagi. Mudahnya orang bilang karma namun, bingung juga menanggapinya. M
    enurut saya sendiri karma memang ada. Sebatas sebuah delusi. Mudah-mudahan saya dipertemukan dengan topik karma yang lebih tajam 😀

    • iia, semoga lebih d perjelas lg sebenar’y arti dr karma itu apa 🙂

      • Arie Pudjiarso

        Tapi, karma itu ada di kitab suci, lho! Sedikit mengerikan. Ya, itu buat peringatan untuk kita agar selalu berpikir dulu sebelum bertindak 😀

      • yupz 😀

comment here please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: